.......welcome to my world and change your mind here........

Jumat, 22 Agustus 2014

Bukittinggi 4 : Lobang jepang

Berkunjung ke Bukittinggi tidak lengkap rasanya jika belum mengunjungi wisata sejarah yang satu ini. Terletak di taman Panorama di pusat kota Bukittinggi dan berdampingan dengan ngarai sianok, membuat objek sejarah Lobang Jepang menjadi salah satu tempat tujuan wisata favorit di Bukittinggi. 

Untuk masuk kesana anda hanya perlu membayar tiket seharga 8000 rupiah per orang dewasa dan 5000 rupiah untuk anak-anak di bawah 12 th. Lobang jepang atau Goa jepang merupakan terowongan bawah tanah dengan panjang  1,5 KM yang membentang di bawah kota Bukittinggi. 

Terowongan ini memiliki setidaknya 20 cabang lorong yang setiap cabang dulunya memiliki fungsi masing-masing. Mulai dari ruang penyimpanan senjata, ruang makan tentara jepang, barak militer, penjara bagi para romusa yang pada waktu itu didatangkan dari jawa dan sulawesi, serta terowongan darurat yang digunakan untuk melarikan diri bagi tentara Jepang jika Goa tersebut ditemukan oleh Belanda. Uniknya, jalan keluar dari terowongan itu mengarah tepat ke jurang di ngarai Sianok, hal ini memberi kesan bahwa orang-orang jepang lebih memilih bunuh diri dengan terjun ke jurang sianok daripada tertangkap oleh pasukan musuh pada masa itu.
pintu keluar darurat

Tidak ada yang tahu pasti tentang sejarah lobang Jepang ini, para ahli memperkirakan terowongan ini dibangun pada tahun 1942 sebagai bungker pertahanan rahasia tentara Jepang saat Perang Dunia II dan perang asia raya sedang berlangsung. Goa Jepang ini ditemukan pada tahun 1946 oleh pemerintah bukittinggi dengan keadaan yang sangat menyeramkan karena banyaknya tulang belulang manusia yang berserakan disana.


Daya tarik utama dari objek wisata ini memang terletak pada kemisteriusan sejarahnya. Maka menurut saya tidak akan lengkap dan menarik ketika kita berkunjung kesana tanpa ditemani oleh pemandu wisata, karena disana tidak ada papan informasi mengenai sejarah Goa Jepang yang lazim kita temui jika mengunjungi situs-situs wisata sejarah.
Pintu masuk area lobang jepang

Keindahan ngarai sianok juga menjadi pelengkap daya tarik dari objek wisata sejarah ini, apalagi sekarang juga telah dibangun jembatan yang menghubungkan antara taman panorama dan pasar bawah yang berada di ujung ngarai sianok. Bentuknya sebelas dua belas dengan tembok besar cina :D.
'tembok cina' KW 12 terlihat dari taman panorama


Tak jauh dari Lobang Jepang juga terdapat monumen Jam Gadang yang menjadi ikon kota Bukittinggi, jangan lupa untuk menyempatkan diri mampir kesana. Selain dapat melihat langsung Jam Gadang yang terkenal itu, anda juga dapat memuaskan hasrat belanja anda di pasar tradisional maupun mall modern yang berada di area Jam Gadang. 

Jika anda memilih untuk berbelanja di Pasar tradisional maka pastikan anda memiliki kemampuan tawar menawar yang mumpuni karena jika tidak, anda akan mendapatkan barang biasa dengan harga hingga lima kali lipat. waspadalah.

bagi anda yang ingin mendapatkan tips dan trik berbelanja di pasar sekitar jam gadang, jangan lupa untuk membaca catatan perjalanan saya selanjutnya. :D

Au revoir !

Rabu, 06 Agustus 2014

Bukittinggi 3 : Lembah harau

Masih di hari kamis, 31 Juli 2014

Selain kelok sembilan nya yang termasyhur, di kota payakumbuh (tetangganya bukittinggi), Sumatera Barat terdapat pula wisata alam lain yang tak kalah menarik dan murah yaitu Lembah Harau. lembah Harau merupakan sebuah  obyek wisata yang dikelilingi oleh bukit cadas dan terdiri dari dua buah air terjun, barisan dinding lembah yang menakjubkan, area flying fox, pasar makanan dan souvenir, taman bermain anak, dan taman satwa mini. 
tampak depan dari pintu masuk

Senin, 04 Agustus 2014

Bukittinggi 2 : Kelok sembilan

Hari kedua kami di Payakumbuh, Kamis 31 Juli 2014.
Hawa dingin payakumbuh membuat kami malas beranjak dari tempat tidur. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi tapi matahari belum juga nampak akan bersinar. Suasana ini mengingatkan saya pada pagi hari di daerah batu, dingin, sejuk dan berkabut.Di Payakumbuh, saya menginap di rumah tante Ida, saudara kandung dari ibu mertua saya yang sudah puluhan tahun tinggal di sumatera barat. Hari ini, agenda kami adalah jalan-jalan menikmati kelok 9 dan lembah harau yang terkenal jadi tujuan wisata di daerah payakumbuh. Sebelum berangkat kami ambil foto dulu. 
Tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah kelok sembilan, sebuah jalan utama menuju pekanbaru, Riau yang dibuat sejak jaman belanda dulu dan kini diperbaiki dengan dibuat jembatan-jembatan yang berkelok-kelok. Total kelokannya sih konon berjumlah sembilan. Pemandangan menuju ke kelok sembilan tak kalah ciamik dari pemandangan yang saya dapatkan kemarin saat menuju kota payakumbuh ini. Hamparan padi menguning dengan latar belakang gunung menjadi sajian keindahan pertama yang menyambut saya di perjalanan menuju kelok 9.
Selanjutnya kami menyempatkan diri mampir di kantor bupati kabupaten Lima Puluh kota yang bertetangga dengan kota payakumbuh. Bentuk bangunannya sangat khas tanah minang dengan atap tanduk kebo yang biasa dipakai di rumah-rumah Gadang. Bangunan khas inilah yang membuat saya sangat merasakan atmosfir budaya minang disini. Semua bangunan pemerintahan seperti kantor polisi, balai adat atau balai desa, kantor pengadilan, kantor bupati, kantor KPU, sekolahan, dan lain-lain atapnya pasti berbentuk tanduk kerbau seperti gambar kantor bupati disamping ini.

Jalan-jalan Padang-Bukittinggi 1

Hari selasa, tanggal 29 Juli 2014 saya memulai perjalanan panjang menuju kota padang, Sumatera Barat dari kota Bengkulu. Sebenarnya perjalann dari dari Bengkulu menuju Padang melewati banyak sekali pemandangan gunung yang indah, tapi sayangnya hal itu tidak sempat diabadikan oleh penulis karena medan jalan yang berkelok kelok dan naik turun gunung membuat penulis mengalami mabuk kendaraan parah dan tidak bisa tertolong. AKhirnya dengan sisa-sisa tenaga di senja hari saat kami akan memasuki kota Bangko yang terletak di daerah Jambi, penulis hanya bisa mengabadikan matahari senja seperti gambar di samping.