.......welcome to my world and change your mind here........

Senin, 24 November 2014

Hujan dan Sebait Kenangan


Bagi kebanyakan orang Indonesia, hujan memiliki sekian banyak makna. Bagi petani padi, hujan adalah anugrah yang dapat membuat dapur mereka tetap menyala. Bagi Petani tambak, hujan memberi harapan berlimpahnya ikan. Bagi pedagang, hujan mendatangkan barang-barang baru untuk diperjualbelikan. Lalu bagi mereka yang masih melajang, hujan seperti pengirim pesan tentang kesepian di malam-malam yang hanya menyisakan kesendirian :). 

Hujan selalu membawa saya ke dalam labirin kenangan. Ingatan tentang orang-orang yang pernah hadir dan mewarnai hidup saya dengan senyum kebahagiaan, kemarahan, kesedihan dan pelajaran yang tak mungkin dapat saya hapuskan. 

Tetes hujan pertama bulan ini mengingatkan saya pada sesosok perempuan, yang dari rahimnya saya dilahirkan, yang dengan lembut kasihnya saya dibesarkan. Saya biasa memanggilnya emak. Perempuan tangguh itu tak pernah membiarkan hujan menghentikannya untuk pergi ke sawah, mencari sejumput padi dari para tuan tanah di hari panan raya. Masih lekat di ingatan saya, hari dimana hujan petir dan angin menciptakan keributan yang luar biasa di desa kami, dia bahkan tak mengizinkan dirinya sendiri untuk berhenti mengayuh sepeda. Wanita berjiwa baja itu rela menempuh jarak belasan kilometer di tengah guyuran hujan demi segenggam makanan untuk disuapkan ke mulut anak-anaknya yang nyaris kelaparan. Dari sana, saya mendapatkan pelajaran cinta pertama saya. cinta itu berbentuk keikhlasan. 

Hujan di musim panen raya seringkali menjadi momok menakutkan bagi saya saat kecil dulu. Karena saat itu, banyak terjadi peristiwa meninggalnya petani karena disambar petir atau jatuh terpeleset di sawah saat hujan lebat mengguyur. Hal ini selalu membuat saya ketakutan saat emak belum lagi pulang ke rumah padahal hari sudah senja dan malam nyaris datang. Saya menjadi paranoid dan pikiran-pikiran buruk tentang emak pun berkeliaran memenuhi otak kecil saya. Saya begitu takut tak bisa melihatnya lagi, dia satu-satunya yang saya miliki. saya mnyayanginya sepenuh hati, tapi dia menyayangi saya sepenuh bumi. 

Begitulah, hujan pertama di november tahun ini mengingatkan saya pada ketulusan sebuah perjuangan. Perjuangan seorang perempuan yang tak pernah menyerah pada takdir yang mengharuskannya bersusah payah di dunia demi menghidupi delapan anaknya. Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal untuknya di dunia yang kekal nanti. :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar