.......welcome to my world and change your mind here........

Minggu, 29 Maret 2015

Kota Tiga Lelaki

http://1.bp.blogspot.com/-RbQWUe6Bnys/UIYGtHgYQSI/AAAAAAAAAYo/5GekAgmhFKg/s320/Love,Jogja.jpg

Lelaki Pertama

Aku masih sangat muda ketika kamu mengajakku kesana. Ibarat bunga, aku barulah sebentuk kuncup mawar merah. Gadis belia yang masih sangat hijau terhadap dunia, dan di hari itulah kau mengenalkanku pada kota ini. Orang ramai menyebutnya kota budaya, kotanya para raja-raja. Namanya santer terdengar dimana-mana, kota yang istimewa.
 
Aku ingat betul, kita menyusuri jalan ramai di sepanjang kaliurang tanpa bergandengan tangan. Aku sesekali melirikmu malu-malu. Aih, benarlah, betapa lugunya aku waktu itu. Kamu bersikap selayaknya seorang pria, bukan remaja yang hanya memperturutkan nafsunya. Aku bisa merasakan cinta di sebaris senyum yang kau pamerkan padaku setiap waktu.


Aku mengagumimu, kamu memujaku. Kamu menggilaiku, aku berusaha mencintaimu. Aku menyukai caramu meluluhkan hatiku.
Iya, bagiku kota ini adalah misteri. Ia menghadirkan aura cinta dan juga petaka yang perlahan-lahan menyusupi hati kita.
Tak kusangka, kita akhirnya berpisah. Baiklah, bukan kita tapi aku yang perlahan mulai menjauhimu sepulangnya dari sana. Aku tiba-tiba terlalu takut untuk jatuh sangat dalam padamu, pada ketulusan cintamu. Aku yang masih sangat muda merasa tidak siap untuk membina komitmen di atas bahtera. Terlalu dini rasanya, kamu mengerti dan meminta semua untuk diakhiri.
 
Aku rapuh, sebentuk cita-cita di dada mengharuskanku untuk melukaimu, mematahkan sendiri rasaku.
Cinta remaja yang tidak bertahan lama, tapi cukup kuat untuk menyisakan kenangan di kota kita, kota keraton yang melegenda.

Lelaki Kedua

Aku mengenalmu dalam kematangan seorang gadis semi dewasa. Pertemuan pertama yang tidak menimbulkan banyak kesan membuat kita lebih sering berhubungan. Tidak untuk sayang-sayangan, dan atau mengenal diri untuk saling berdekatan. Kita bertemu untuk kepentingan idealisme kemahasiswaan. Kamu mengenalkanku pada dunia baru di kampus biru. Mengajariku tentang warna warni intelektual konstektual ambigu di tempat para pencari ilmu bersatu. Aku kau buat kagum dengan bahasa-bahasa ilmiah yang selama ini tidak membumi padaku. Pelan-pelan terselip keinginan di anganku untuk menjadi seseorang yang dapat menemanimu menjelajahi mimpi-mimpi besarmu. Keinginan yang sering kutertawakan sendiri dalam diam doaku. Kamu guru, dan aku muridmu yang hanya bisa sendiko dawuh.
 
Lalu tiba-tiba dibalik keacuhanmu itu, kau mulai lebih peduli padaku. Kau membuatku bingung dengan pasang surut perhatian yang kau curahkan padaku. Semuanya terjadi begitu saja, angan-angan yang kutertawakan entah bagaimana bisa berubah menjadi kenyataan. Kamu bilang, aku yang mengajarkanmu jatuh cinta. Kamu berkata bahwa aku satu-satunya yang membuatmu menggila,  setelah tahun-tahun hampa yang kau lewati sendiri tanpa rasa. Aku merasa bangga, tapi juga merasa bersalah.
 
Tiga ratus lima puluh enam hari lamanya, aku dan kamu sama-sama merajut cerita. Memintal benang kehidupan untuk ditenun menjadi kain masa depan berdua. Lalu akhirnya kita pergi ke kota itu. Kita membawa benang yang tergulung rapi, tapi perjalanan yang panjang membuatnya kusut dan tak dapat di tata kembali. Di kota yang seharusnya ingin kutinggalkan goresan yang indah, kini berubah menjadi ladang air mata. Kota istimewa itu, kota cinta para pengembara, sekali lagi membawakanku cerita duka.
 
Aku melihatmu pergi, membawa segulung benang rasa yang hendak kau pintal dengan perempuan lainnya.
Di kota ini, lagi-lagi rasaku menyepi. Mimpi dan harapanku terbang tinggi dan jiwaku menjadi sunyi.
Kamu membuatku lelah, aku tak lagi percaya pada indahnya cinta manusia. Kota ini menjadi saksi, atas janji gadis mendewasa yang tersakiti. Janji untuk tidak lagi mencintai, janji untuk tidak lagi tunduk pada hegemoni sabda lelaki.
 
Cukuplah, dua bait puisi sedih yang kutorehkan di kota ini. Jangan lagi, jangan ada lagi.

Lelaki Ketiga

Gerimis kesedihan menyapaku sepanjang malam saat kamu menyapaku di kota itu. Dalam sepi dan kehampaanku, bagiku kamu bukanlah obat penenang. Aku sudah tak percaya pada keajaiban kota cinta. Aku mengabaikanmu, meski sosokmu membuatku terinspirasi untuk membalas dendam pada dia yang menelantarkan rasaku sendirian di sini, di kota para priyayi. 
 
Kamu mengenalnya dengan sangat baik, kalian berbagi cerita dan tawa layaknya sepasang sahabat lama. Egoku membayangkan sakit yang ia dapatkan jika aku bisa bersamamu. Ah, indah sekali merasakan manisnya balas dendam. Namun secepat bisikan itu datang secepat itu pula ia menghilang. Kesadaranku atas tingginya standart yang kau tetapkan bagi perempuanmu membuatku ciut. Gadis semi dewasa sepertiku tak mungkin memenuhi kriteria. Aku hanya tersenyum sinis, mengasihani diriku sendiri yang gagal mendapatkan balas dendam termanis.

Deru bis dan suara knalpot panas mengantarkan kekalahanku kembali pada altar kampus biru.
Berhari-hari kemudian, aku masih sibuk menangisi patahnya hatiku. Aku terjerembab dalam kesedihan yang paling merana.
 
Awan hitam masih bergelayut manja di kelopak mataku yang memancarkan keputusasaan saat tiba-tiba kamu datang menawarkan pertemanan.
Aku yang masih terluka tentu saja tidak begitu mudah percaya. Tapi lalu sorot teduh pada tatapanmu menyihirku untuk percaya pada kesungguhanmu. Senyum tulusmu seperti cahaya mentari yang mengusir mendung dari hidupku yang perih.
 
Kamu datang tanpa diundang, tapi aku tak berharap lebih dari teman. Aku sudah pernah dikhianati oleh harapan, tak mungkin aku bisa percaya padanya saat ini.
 
Dalam kelelahanku menata hati yang porak poranda, kamu datang dan datang lagi. Tidak lelah, tidak pula mencoba menawarkan sampah cinta. Entah mengapa aku menikmati kehadiranmu di tiap waktu membersihkan luka hatiku. Hingga di hari yang cerah kamu kembali datang untuk memintaku mengarungi bahtera, dimana disana ada ridho Tuhan dan keluarga. Kamu tidak menjanjikan kebahagiaan, tidak pula menghujaniku dengan kata rayuan. Kamu hanya berkata untuk melangkah bersama, membangun rumah cahaya dalam naungan-Nya. Sungguh, kamu membuatku tak dapat berkata-kata. Jika aku adalah Nabi, maka kamu ialah wahyu yang dikirim Tuhan padaku untuk menunjukkan jalan, menerangi langkahku, mengusir resah gelisahku, sempurnakan hidupku.
 
Aku tak dapat lagi melihat dendam yang dulu begitu ingin aku kobarkan. Aku tak bisa lagi merasakan pahit yang ingin kutimpakan pada dia yang menebar rasa sakit.
 
Kamu merubah hidupku, memasukkanku dalam dimensi cinta yang baru.
Cinta yang tidak hanya ada aku dan kamu. Tapi ada Tuhan disana, sumber segala rasa, pemilik abadi cinta ini. Ada keluarga yang dari mereka kita mengenal apa itu cinta.
Untuk sekali ini saja, aku dapat buktikan di dunia nyata, datang ke kota itu memberiku berkah. Dimana aku bertemu denganmu yang begitu indah, kota dimana akhirnya kamu menggenggam tanganku tanpa takut berdosa. Kota saat tatapan kita berbuah pahala.

Kota dimana jejak sedihku terhapus langkah kebahagiaan bersamamu.
Kota yang mengajarkanku cara terbaik mencintai dalam berkah Tuhan ialah dengan pernikahan.
Bersamamu, di kota ini, aku kini mengerti, bahwa tangis bahagia layak dicurahkan disini.
Di satu kota, dalam tiga cerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar