Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label CERPEN

Gerbang rindu

Satu hari, tepat saat kamu bilang akan pergi. Aku hanya terpaku dalam sedih yang tak terungkap. Aku tak bisa lagi mencegahmu berlari. Aku tak mampu untuk memintamu tetap tinggal disini. Aku hanya bisa melihat punggungmu berlalu. Itu hari terakhir kita bersua. Di suatu senja di depan pintu kos ku yang bersahaja. Setelahnya, ada hari-hari sepi yang menyiksaku dengan sakit tak terperih. Aku rindu. Sekedar melihatmu dari jauh pun, aku mau. Tapi kamu benar-benar pergi. Menghilang bagai lenyap di telan bumi. Andai kamu tahu, setiap pagi menjelma di ufuk timur sana. Aku merelakan kaki ku berjalan lebih jauh menuju kampus kita. Aku sengaja melewati jalan tikus menuju fakultasmu agar supaya kita dapat bertatap muka. Tapi kamu tak pernah ada. Ribuan mahasiswa berjalan di sana setiap paginya, dan entah mengapa sehari pun aku tak pernah melihatmu berkelebat disana. Sekali saja, tak pernah. Seolah engkau sengaja bersembunyi. Perlahan aku meyakini, engkau mungkin hanya mimpi. Yang sempat menghi...

Rantang Sahur

Alifah terbangun, waktu sahur sudah datang. Ia mendengar hiruk pikuk di sekitarnya. Ah iya, ia sedang tidak di rumah sekarang. Ia berada di sekolah. Ada program pondok romadhon untuk kelas 4 sampai 6 selama dua hari satu malam yang harus ia ikuti. Alifah kecil baru duduk di kelas 4 sd. Jumlah siswa putri di sd kecil mereka tidaklah banyak. Hanya 15 orang saja, jadi mereka ditempatkan dalam satu ruang kelas besar yang disulap menjadi ruang tidur dadakan dengan karpet seadanya. Tak mengapa, semua orang senang. Alifah juga senang. Ia melihat sudah banyak teman sekamarnya yang duduk di bangku sekolah yang sementara ini berfungsi sebagai meja makan. Makan sahur mereka diantarkan oleh orang tua masing-masing. Alifah mencari cari kelebatan emaknya. Ia yang masih diserang kantuk berjalan gontai ke depan kelas, menunggu emaknya yang mungkin mengantar makan sahur. Alifah melihat satu per satu tetangganya datang mengantar makan sahur anak mereka, alifah bertanya apakah ada yang melihat...

Risih

Setelah 28 bulan menikah, saya mulai bosan ditanya tentang anak. "Kapan punya anak?" "Loh dimana anaknya?" "Sudah berapa anaknya?" "Kenapa ditunda-tunda?" "Mankannya jangan begini .. jadinya kan begitu" "Wah gimana nih, gak topcer.. hehehe" "Wah...." Dan bla bla bla. Saya jadi lumayan malas menanggapi chat atau obrolan dengan beberapa kawan lama karena topiknya selalu sama. Bukannya bagaimana, tapi rasanya sebal sekali dengan orang2 yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kita, lalu komentar seenak udelnya. Seolah olah mereka paling tahu apa yang harus kita lakukan, dan bertindak menggurui karena mereka sudah lebih dulu diberi amanah oleh Tuhan. Mereka seringkali, atau memang sama sekali tidak tahu apa yang sudah kita usahakan, berapa banyak biaya yang sudah kita keluarkan untuk menjemput berkah bernama anak anak. Kalimat kalimat yang cenderung memojokkan itu membuat kami, para istri yang belum dib...

MEMOAR KEPO

Mungkin,  ada seseorang yang ingin sekali kamu lupakan,  yang begitu ingin kamu hapus selamanya dari bayangan,  tapi entah mengapa dan bagaimana dia selalu saja bisa menetap di ingatanmu. Seperti penghuni lama di memori otakmu. Kadang ia terlupakan dan tak terlihat , namun di momen momen tertentu ia tiba tiba datang tanpa diundang. Tanpa sengaja kamu ceritakan kembali, tanpa sadar kamu memutar lagi pita memori tentangnya. Iya,  memang tanpa rasa,  hanya sebagai pelengkap gelak tawa. Hanya sebagai buah bibir kisah yang sudah sudah. Atau,  sekali kali kamu masih bertanya apakah di hatinya namamu sudah benar benar tidak ada?. Sudahkah ia dapat melupakanmu dengan sempurna? Sudahkah ia sanggup tidak menyimpan sedikitpun kenangan tentang kalian?. Apakah benar tak ada lagi jejak yang tertinggal di hidupnya jika itu tentang dirimu?. Aih, mungkinkah lupa adalah sebentuk kemustahilan yang tidak pernah dapat terwujud?. Mungkinkah ketika kamu menertawakan tangisanmu...

Kota Tiga Lelaki

Lelaki Pertama Aku masih sangat muda ketika kamu mengajakku kesana. Ibarat bunga, aku barulah sebentuk kuncup mawar merah. Gadis belia yang masih sangat hijau terhadap dunia, dan di hari itulah kau mengenalkanku pada kota ini. Orang ramai menyebutnya kota budaya, kotanya para raja-raja. Namanya santer terdengar dimana-mana, kota yang istimewa.   Aku ingat betul, kita menyusuri jalan ramai di sepanjang kaliurang tanpa bergandengan tangan. Aku sesekali melirikmu malu-malu. Aih, benarlah, betapa lugunya aku waktu itu. Kamu bersikap selayaknya seorang pria, bukan remaja yang hanya memperturutkan nafsunya. Aku bisa merasakan cinta di sebaris senyum yang kau pamerkan padaku setiap waktu.

Satu Purnama II

  Reyna masih terpaku pada katalog produk fashion terbaru yang akan diluncurkan oleh perusahaannya besok pagi. Katalog itu akan diluncurkan bersamaan dengan pembukaan outlet baru mereka yang berlabel THE NEXT, di salah satu kawasan perbelanjaan modern di Bekasi.  Perempuan yang masih lajang di umurnya yang sudah memasuki pertengahan kepala tiga itu tidak benar-benar mencermati katalog di depannya. Ia hanya membolak-baliknya dengan fikiran kosong. Pertemuan tiba-tiba dengan Alvin sore kemarin, membuatnya kehilangan konsentrasi. Lelaki yang ia kira, sudah ia lupakan ternyata masih saja memiliki jejak yang tertinggal di hatinya.         Mungkin, lelaki itulah jawaban dari semua keraguannya pada pria-pria yang silih berganti datang mendekatinya. Mungkin, cinta masa lalu yang ia anggap sudah tidak ada itulah yang selama ini menjadi pemberat langkahnya untuk melengkapi separuh agama.         Reyna menghela nafas panjang, ia...

Satu Purnama

Namanya alvin, ia berjalan menyebrangi gerimis menuju jembatan penyebrangan di sisi jalan. ia terlihat terburu-buru, seperti mengejar sesuatu. Ia bahkan tidak sempat memarkir mobilnya di tempat biasa. Matanya mencari-cari sesosok bayangan yang tadi berkelebat cepat di depannya dan tiba-tiba mengingatkannya pada sesuatu, atau seseorang?. Alvin berhenti sejenak, tepat di depan pusat pertokoan besar yang biasa ia singgahi untuk makan siang, ia melihat bayangan itu lagi. Alvin menghela nafas lega. Ia segera berbelok ke arah tangga menurun yang langsung menuju pintu masuk mall besar itu. Ia bergegas mengikuti bayangan dari masa lalunya yang memasuki sebuah restoran kecil di samping eskalator. Alvin merasakan dadanya berdegup kencang saat ia dapat melihat wajah itu dengan lebih jelas. Iya, tidak salah lagi, senyum itu adalah milik gadis itu, satu-satunya cinta yang ia miliki saat kuliah di salah satu universitas ternama di Jawa. Ia masih berdiri di bawah eskalator di depan restoran , ket...

A stranger

       kamu seperti orang asing, datang dan pergi tanpa permisi.   Aku merana, tatapan matamu yang menghampa membuatku gulana. Tak ada lagi tawa, atau sekedar sapaan cinta di pagi buta.Semuanya menghilang begitu tiba-tiba.Aku benci hari ini, hari dimana aku merasa begitu sendiri. Kau disana, hanya beberapa meter dari tempatku berada, tapi rasanya kita tak pernah bersua. 

Rain Ezra

"hei, melamun lagi ya?", Aku menoleh, ia tiba-tiba saja sudah ada disini, dengan payung biru di tangan kanan dan papan sketsa di tangan kiri. Ia tersenyum, senyum hangat yang membuatku tak lagi merasa kedinginan.  " kamu.. sedang apa? "  "Hujan membuatku terinspirasi.."  "oh, aku kira.." Aku kembali menatap tetesan hujan yang membentuk lingkaran di kubangan air di depan halte bus mungil itu. " kamu kira apa?"  " kamu datang karena aku disini.."  " haha... Jangan melankolis begitu Arin, ekspresimu membuatku mual" Ia tertawa. Tanpa beban, tanpa tahu bahwa selama ini, lekuk indah di wajahnya yang membentang tawa itu telah menawanku, memenjarakan segenap rindu di hatiku. 

when you choose her

" kamu selalu saja membuatku menangis!!" " bukannya kamu memang cengeng?" " aaaaah, penyebabnya itu kamu!! yang selalu menjengkelkan" " perasaanmu saja yang terlalu sering mengasah kejengkelan sehingga dia menjadi tajam" " kenapa harus selalu perempuan itu?!! " " siapa? " " Al.."

Cerita Kita

Aku sedang membuka-buka draft skripsiku saat suara yang tak asing itu menyapaku, " naila.. " aku tertegun sebentar sebelum kemudian, mengangkat muka untuk melihatnya yang sudah berdiri di depanku, dengan senyum yang terlihat dipaksakan. aku tersenyum padanya. " iya.. ada apa rif?" laki-laki itu tampak segan,  " emm.. ada yang ingin saya bicarakan denganmu, boleh saya duduk ?"  " baiklah, tapi jangan lama-lama ya, saya banyak tugas" dia menganguk senang, senyum manisnya keluar dengan tanpa beban sekarang, - senyum manis yang dulu pernah sangat aku rindukan-. dia duduk, dan aku kembali menekuni draft skripsiku, ada beberapa hal yang perlu di revisi. " emm.. naila.. "

Final Decision

" kamu tidak cukup berarti untuk diperjuangkan ternyata, hahaha" tawa nyaring raisa membuatku benar-benar ingin menonjok hidungnya.  " tega sekali kamu, tertawa diatas penderitaan orang lain" aku manyun, gadis mungil itu semakin keras tertawa. " yah, seringkali orang orang mempunyai banyak stok alasan untuk meninggalkan seseuatu..seseorang yang  tentunya tidak benar-benar ia inginkan.." kali ini raisa mentapku dengan wajah simpati, dia menepuk pundakku pelan, aku menepisnya perlahan. " begitukah menurutmu?"

Let Me, Move On dear.. :)

" kamu mau kemana?" dia bertanya dengan wajah cemas, memegang pundakku erat-erat, aku menoleh, menggeser tangannya dan tersenyum. " move on.. "  "kamu tidak mungkin melakukannya, kamu masih mau tinggal disini.. kamu hanya bercanda.."  "kamu pikir sampai kapan aku akan disini?" " selamanya.. selamanya.." " aku tidak akan membuatmu menang dengan mudah.."  " kamu tidak ingat betapa indahnya aku dulu?"

Rasanya Habis Putus Itu

"hah.. rasanya itu jengkel, pengen teriak, pengen marah, pengen nggampar.. pengen nangis.." "oh, gitu ya.. " aku melihatnya dengan tatapan marah. "  kamu kok cuek gitu sih, nggak dengerin ya?" " dengerin kok, trus kamu maunya gimana?" " aku mau keluar aja deh dari proyek penelitian itu.. " " serius? trus skripsi kamu gimana? " " ya kan masih ada penelitian dosen lain si.." " tapi kan kamu udah masuk proyek penelitian sama pak Agung.." " lah dari pada aku makan hati terus si, ntar aku malah nggak bisa konsen ke penelitian, saban hari ngeliat dia di Lab, setiap hari denger suaranya, gimana bisa konsentrasi coba? jadinya malah aku salah ngitung terus.."

Aku

" menikahlah denganku.. " laki-laki itu menatapku sungguh-sungguh. hatiku bergetar, ketakutan itu menyergapku tanpa sadar. " bisakah? sedangkan terlalu banyak omong kosong yang sudah aku lakukan.." merasa tidak pantas bersanding dengannya, pemilik suara selembut kapas.  " selagi kamu masih mau mengisi hidup dengan ibadah suci"  " apa aku layak diampuni?" aku butuh dukungan, keterpurukanku di masa lalu seakan mencipta dinding antara aku dengan kebaikan.  " Yang Maha Pengampun memberikannya pada siapa saja yang bersungguh meminta.."  " aku tidak yakin bisa mendapatkannya.. " " yang harus kamu khawatirkan adalah keyakinanmu.. "

KAKAK

14 oktober Gerimis pertama di bulan oktober turun perlahan, Bus kota terakhir tujuan Pasar Turi-JMP baru saja berlalu. Halte sudah ditinggalkan orang-orang yang menunggu, tapi gadis itu masih disana, duduk sendiri, aku menghampirinya, dadaku sesak mengingat kalau ini adalah tempat pertama kali kami dipertemukan. Gadis itu menatapku dengan tatapan penuh dendam, kemarahan, airmata, hatiku sakit melihatnya, tapi aku bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk merubahnya. Aku mencoba meraihnya tapi dia menepis tanganku kasar. “sudahlah dik, tidak bisakah kamu hanya menganggapku kakak?” “ kakak? “ dia bertanya seolah pada dirinya sendiri, sinis, tajam. Air mata itu, ah kenapa harus mengalir lagi.

Aku dalam cerita

" amour, cinta?" "itu masa lalu, percayalah itu masa lalu.!" "iya, masa lalu dan kamu masih menyimpannya dengan manis di laptopmu!! manis sekali.. " kau tersenyum sinis. aku menatapmu dengan tatapan tak mengerti harus bagaimana lagi. " aku tidak menyimpannya!" " iya, karena kamu baru saja menghapusnya, kamu baru saja menghapusnya karena aku melihat laptopmu!" kau melihatku dengan mata penuh luka, rahangmu mengeras karena amarah. dan aku sendiri bingung harus berkata apa. " aku sudah menghapus semua file tentang dia lama, lama sekali dan saat kau meminjam laptopku aku mencari-cari lagi, aku memastikan apa semua foto itu sudah terhapus karena aku tidak mau kamu tidak sengaja menemukannya dan kemudian salah faham, lalu ternyata masih ada yang tertinggal di folder foto-foto organisasi dan aku menghapusnya.. aku tidak pernah sengaja menyimpan itu!!"

SELAMAT PAGI CINTA

SELAMAT PAGI CINTA selamat pagi cinta, kuucapkan itu dengan hati risau penuh gundah, kala melihat wajahmu yang indah, tak tersenyum ceria. Seperti dulu, ya seperti dulu, ketika kita pertama bertemu. Seperti dulu, saat kita memutuskan untuk merajut rasa yang manis, walaupun penuh tangis. Kau tak tersenyum, tak seperti dulu. “ cinta….”. sapaku kala itu, dengan wajah berbinar karna kerinduan yang akan sege Selamat pagi cinta, ku sapa kau dengan dada bergetar karena rindu yang terpendam lama, berharap kau juga merasakan rindu ini, rindu sepasang merpati yang lama terpisah. Rindu yang menyiksaku dalam sepi yang menyayat, dan berharap kau juga merasainya, dan nyatanya aku keliru, karna bahkan kau tak harapkan kedatanganku, tak kau sambut hadirku, dan kau abaikan aku. Selamat pagi cinta. wahai cinta, apakah waktu yang lama telah membuatmu lupa, bahwa aku adalah kasihmu, bahwa aku ini jiwamu, bahwa akulah yang selalu ada di hatimu? Lupakah kau cinta? Kalau aku sungguh mencintaimu? ...