Langsung ke konten utama

Postingan

Kehilangan Masa muda

Aku mungkin tipe orang yang serius dan pemikir. Tidak terlalu suka bersenang-senang dan hangout bersama-sama kawan sekelas dulu pas kuliah. Penyebabnya mungkin karena dana bulanan yang terbatas dan atau rasa tidak pede ketika main bareng mereka yang gaul, keren dan beratribut wah untuk kalangan mahasiswa seperti aku. Whatever intinya, aku tidak banyak bersenang-senang. Aku tidak punya semacam KB (kelompok Bermain). Atau semacam HS (hangout society). Apa hal itu membuatku bersedih? Dulu mungkin tidak. Aku memiliki kelompok lain. Misalnya kelompok taklim di IMM (ikatan Mahasiswa muhammadiyah), atau pengajian mingguan di GENQ (Generasi Qurani). Atau beberapa kawan main teater di TL (Teater Langit). Namun semua kegiatan itu banyak berubah dan mulai aku tinggalkan sejak aku memutuskan untuk menikah pada akhir semester 5 atau awal semester 6. Iya, satu tahun sebelum aku lulus. Aku sejujurnya mulai merasa terasing. Aku tinggal jauh dari basecamp (atau kos-kosan sederhana) yang aku t...

Merangkai Ikhlas.

Ikhlas, hampir semua orang sudah begitu terbiasa dengan kata yang satu ini. Tapi, apakah mungkin sudah benar2 mengerti? Benar memahami apa yang ada di dalamnya?. Ikhlas adalah melepaskan, merelakan semua hal yang terjadi pada diri kita. Baik buruk. Dendam benci. Iri dengki dan bahkan sakit hati. Semuanya, terutama kehilangan orang terkasih. Saya mungkin menyangka saya telah ikhlas melepaskan kepergian ibu saya, 3 tahun yang lalu. 

Nostalgia Dua Tanah kelahiran

Malang pernah menjadi salah satu kota impian saya untuk menempuh pendidikan. Dulu, hampir 5 atau 6 tahun yang lalu. Dalam bayangan saya malang adalah kota yang sejuk dan indah, tempat dimana cerita cerita sempurna akan tercipta. Kulinernya melimpah, biaya hidupnya rendah, banyak sekolah berkualitas disana. Ya, pokoknya sempurna.

Risih

Setelah 28 bulan menikah, saya mulai bosan ditanya tentang anak. "Kapan punya anak?" "Loh dimana anaknya?" "Sudah berapa anaknya?" "Kenapa ditunda-tunda?" "Mankannya jangan begini .. jadinya kan begitu" "Wah gimana nih, gak topcer.. hehehe" "Wah...." Dan bla bla bla. Saya jadi lumayan malas menanggapi chat atau obrolan dengan beberapa kawan lama karena topiknya selalu sama. Bukannya bagaimana, tapi rasanya sebal sekali dengan orang2 yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kita, lalu komentar seenak udelnya. Seolah olah mereka paling tahu apa yang harus kita lakukan, dan bertindak menggurui karena mereka sudah lebih dulu diberi amanah oleh Tuhan. Mereka seringkali, atau memang sama sekali tidak tahu apa yang sudah kita usahakan, berapa banyak biaya yang sudah kita keluarkan untuk menjemput berkah bernama anak anak. Kalimat kalimat yang cenderung memojokkan itu membuat kami, para istri yang belum dib...

Pararel

"Kurang apa lagi aku membuktikan, Sarah?". Laki laki itu terlihat frustasi di depanku. Aku hanya menunduk. Rasanya entah mengapa, sakit sekali.  "Aku sudah memberikan segalanya padamu, sudah kubuktikan sebesar apa cintaku. Tidakkah itu cukup bagimu untuk menerimaku?" Aku hanya membatu, laki-laki itu memandangku. Hatiku kembali menderu. "Katakan.. aku harus apa?". Ia kembali menunjukkan wajah putus asa. "Menjauhlah...". Akhirnya aku bicara, menatap matanya yang memerah. Ia seperti melihat kematiannya di mataku. "Apa?! Apa kau bilang?". Aku melihat dadanya naik turun menahan amarah. 

Syukur yang terlupa

Memilikimu adalah anugrah yang sering membuatku buta memilikimu adalah syukur yang luar biasa yang menjadi tak terasa memilikimu adalah nikmat yang tak lagi kukecap erat-erat aku membatu manisnya bibirmu tak lagi menyentuhku aku bebal pada perasaan aku muram pada kedengkian Ampunan... ingin kuhirup tiap wangi sukmamu kini kusesap batinmu yang gemulai aku merinduimu dalam diam syukur yang kering