Langsung ke konten utama

Postingan

Rantang Sahur

Alifah terbangun, waktu sahur sudah datang. Ia mendengar hiruk pikuk di sekitarnya. Ah iya, ia sedang tidak di rumah sekarang. Ia berada di sekolah. Ada program pondok romadhon untuk kelas 4 sampai 6 selama dua hari satu malam yang harus ia ikuti. Alifah kecil baru duduk di kelas 4 sd. Jumlah siswa putri di sd kecil mereka tidaklah banyak. Hanya 15 orang saja, jadi mereka ditempatkan dalam satu ruang kelas besar yang disulap menjadi ruang tidur dadakan dengan karpet seadanya. Tak mengapa, semua orang senang. Alifah juga senang. Ia melihat sudah banyak teman sekamarnya yang duduk di bangku sekolah yang sementara ini berfungsi sebagai meja makan. Makan sahur mereka diantarkan oleh orang tua masing-masing. Alifah mencari cari kelebatan emaknya. Ia yang masih diserang kantuk berjalan gontai ke depan kelas, menunggu emaknya yang mungkin mengantar makan sahur. Alifah melihat satu per satu tetangganya datang mengantar makan sahur anak mereka, alifah bertanya apakah ada yang melihat...

Why do i teach english?

Hello everybody, let me introduce my self. My name is Atika. I have graduated from french language and literature program at Brawijaya university Malang. I am 23 years old. I live in Bengkulu. As you know, i have been studying in french language and literature program but now, i am teaching english. Many people ask me, why??? That's because i love english so much, and actually there is only one school have french lesson here. That school already has a french's teacher. I have no choice anymore, don't I?. When i am accepted at SDIT AL Hasanah, the chief ask me to teach english. I want to refuse it, but this  is my only chance to get a work. So, what can i do?, my husband support me. He says that i should try. If i never try, i will never learn. I do agree with him. So, i do it. From beginning, i have no confident because my pronunciation is very bad and i know nothing about grammar. But thankfully i just teach the third grade student. I remember the basic english. It...

Kehilangan Masa muda

Aku mungkin tipe orang yang serius dan pemikir. Tidak terlalu suka bersenang-senang dan hangout bersama-sama kawan sekelas dulu pas kuliah. Penyebabnya mungkin karena dana bulanan yang terbatas dan atau rasa tidak pede ketika main bareng mereka yang gaul, keren dan beratribut wah untuk kalangan mahasiswa seperti aku. Whatever intinya, aku tidak banyak bersenang-senang. Aku tidak punya semacam KB (kelompok Bermain). Atau semacam HS (hangout society). Apa hal itu membuatku bersedih? Dulu mungkin tidak. Aku memiliki kelompok lain. Misalnya kelompok taklim di IMM (ikatan Mahasiswa muhammadiyah), atau pengajian mingguan di GENQ (Generasi Qurani). Atau beberapa kawan main teater di TL (Teater Langit). Namun semua kegiatan itu banyak berubah dan mulai aku tinggalkan sejak aku memutuskan untuk menikah pada akhir semester 5 atau awal semester 6. Iya, satu tahun sebelum aku lulus. Aku sejujurnya mulai merasa terasing. Aku tinggal jauh dari basecamp (atau kos-kosan sederhana) yang aku t...

Merangkai Ikhlas.

Ikhlas, hampir semua orang sudah begitu terbiasa dengan kata yang satu ini. Tapi, apakah mungkin sudah benar2 mengerti? Benar memahami apa yang ada di dalamnya?. Ikhlas adalah melepaskan, merelakan semua hal yang terjadi pada diri kita. Baik buruk. Dendam benci. Iri dengki dan bahkan sakit hati. Semuanya, terutama kehilangan orang terkasih. Saya mungkin menyangka saya telah ikhlas melepaskan kepergian ibu saya, 3 tahun yang lalu. 

Nostalgia Dua Tanah kelahiran

Malang pernah menjadi salah satu kota impian saya untuk menempuh pendidikan. Dulu, hampir 5 atau 6 tahun yang lalu. Dalam bayangan saya malang adalah kota yang sejuk dan indah, tempat dimana cerita cerita sempurna akan tercipta. Kulinernya melimpah, biaya hidupnya rendah, banyak sekolah berkualitas disana. Ya, pokoknya sempurna.

Risih

Setelah 28 bulan menikah, saya mulai bosan ditanya tentang anak. "Kapan punya anak?" "Loh dimana anaknya?" "Sudah berapa anaknya?" "Kenapa ditunda-tunda?" "Mankannya jangan begini .. jadinya kan begitu" "Wah gimana nih, gak topcer.. hehehe" "Wah...." Dan bla bla bla. Saya jadi lumayan malas menanggapi chat atau obrolan dengan beberapa kawan lama karena topiknya selalu sama. Bukannya bagaimana, tapi rasanya sebal sekali dengan orang2 yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kita, lalu komentar seenak udelnya. Seolah olah mereka paling tahu apa yang harus kita lakukan, dan bertindak menggurui karena mereka sudah lebih dulu diberi amanah oleh Tuhan. Mereka seringkali, atau memang sama sekali tidak tahu apa yang sudah kita usahakan, berapa banyak biaya yang sudah kita keluarkan untuk menjemput berkah bernama anak anak. Kalimat kalimat yang cenderung memojokkan itu membuat kami, para istri yang belum dib...

Pararel

"Kurang apa lagi aku membuktikan, Sarah?". Laki laki itu terlihat frustasi di depanku. Aku hanya menunduk. Rasanya entah mengapa, sakit sekali.  "Aku sudah memberikan segalanya padamu, sudah kubuktikan sebesar apa cintaku. Tidakkah itu cukup bagimu untuk menerimaku?" Aku hanya membatu, laki-laki itu memandangku. Hatiku kembali menderu. "Katakan.. aku harus apa?". Ia kembali menunjukkan wajah putus asa. "Menjauhlah...". Akhirnya aku bicara, menatap matanya yang memerah. Ia seperti melihat kematiannya di mataku. "Apa?! Apa kau bilang?". Aku melihat dadanya naik turun menahan amarah.